#RealStory Ep.13: Belajar Customer Focus Bersama Ibu Peri

Hello Alterrans,

Surprise surprise kita sudah punya episode terbaru dari #RealStory lagi nih! Kali ini wawancara dilakukan bersama tak lain dan tak bukan adalah Ibu Perinya Alterra!! Siapa nih yang sudah menunggu-nunggu episode kali ini? Simak langsung yuk wawancara full-nya!

________________________________________________________________________________________________________

Q: Mba Puspa selalu berhasil mengkomunikasikan sesuatu dengan cara yang positif. Komunikasi juga jadi hal penting dalam value Customer Focus. Gimana sih cara membentuk komunikasi yang baik?

A: Elemen komunikasi yang sangat mendasar ada 3, Komunikator (kita yang menyampaikan), Pesan, dan Komunikan (orang yang menerima pesan). Dari ketiga elemen tersebut harus sama baiknya, sehingga keseluruhan pesan tersampaikan dengan baik. Yang paling utama yang harus diperhatikan ketika berkomunikasi adalah bagaimana cara pesan disampaikan. Aku selalu yakin bahwa apapun pesannya, ketika kita menyampaikan dengan cara terbaik, pasti pesan terburuk pun akan mendapatkan respon yang baik. 

Cara penyampaian pesan yang baik punya dua hal penting yang harus kita perhatikan, yang pertama, gunakan tutur kata dan pemilihan kata yang sesuai dengan pendengar kita. Hal ini penting agar kita berada dalam lingkup pemahaman yang sama dengan lawan bicara kita. 

Yang kedua, posisikan diri kita juga sebagai penerima pesan, bagaimana kita ingin orang berbicara kepada kita, begitulah juga orang ingin diajak bicara oleh kita, dengan kata lain berempati lah ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, karena tujuan utama kita berkomunikasi adalah agar pesan yang kita mau sampaikan diterima lawan bicara sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Contoh dalam keseharian aku ngobrol dengan tim POPS, aku bebas mempergunakan istilah, jargon, singkatan yang berhubungan dengan POPS karena memang tim aku sudah memahami itu. Tapi, ketika aku ngobrol sama lawan bicara lain yang tidak bisa mempergunakan hal tersebut, seluruh istilah, jargon, singkatan itu harus di re-wording menjadi bahasa yang lebih umum dan dapat dipahami oleh lawan bicara kita pada umumnya. Atau, kalau tidak bisa dihindari penggunaan hal-hal tersebut, berikan penjelasan atau pengertiannya dahulu, baru kemudian kita lanjut mempergunakan istilah/ jargon/ singkatannya.

Contoh lagi ketika berempati dalam berkomunikasi misalkan kita perlu menyampaikan pesan yang tidak enak kepada seseorang, sebelum kita memulai berbicara, pikirkan jika kita adalah orang yang menjadi penerima pesan, apa yang membuat kita merasa pesan tidak enak tersebut tidak menjadi lebih buruk, maka lakukanlah itu juga ketika kita menyampaikan pesan tersebut. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Menurut mbak, kapan seseorang bisa dinyatakan sebagai Customer Focus? Ketika orang itu sudah mampu memenuhi ekspektasi customernya kah atau gimana?

A: Buat aku, ini pas panget dengan penjelasan Customer Focus yang dipunyai Alterra, It doesn’t start with you, it starts with your customer… That’s so true! Ketika kita memulai pekerjaan (atau apapun itu) dengan bertanya, apalagi ya yang customer ku butuhkan hari ini? Atau, aku harus bisa membuat customer ku bilang “wow” hari ini! Saat itu lah kita betul-betul sudah memprioritaskan customer kita dan really-really living the Customer Focus values.

Memenuhi ekspektasi customer adalah sebuah outcome dari memiliki pola pikir Customer Focus. Aku yakin, kalau kita sudah punya pola pikir (mindset) yang tepat, memenuhi permintaan customer itu menjadi mudah dan menyenangkan.

________________________________________________________________________________________________________

Q: Bagaimana Mba Puspa menumbuhkan kepercayaan dari customer kepada Mba?

A: Membangun kepercayaan bukan hal yang sebentar dan bisa dilakukan dalam satu hari, tapi membutuhkan semangat dan daya juang tanpa lelah untuk bisa menunjukkan konsistensi dan kelayakan kita untuk bisa dipercaya. Dalam konteks dengan customer kita, aku ada beberapa hal yang biasanya aku lakukan (dan ini perlu konsisten juga menjadi kebiasaan kita lho):

Pertama, berikan kesan yang baik apalagi jika kita pertama kali berkomunikasi dengan customer kita. There’s no second first-impression! Begitu kata pepatah. Kesan pertama yang baik bisa menentukan kepercayaan customer terhadap kita hingga kedepannya. 

Dua, dengar kan customer kita, aktif dengar kan suara mereka, keinginan mereka, harapan mereka, kecemasan mereka, luangkan waktu untuk berada bersama customer kita, tunjukkan bahwa kita betul-betul ada bersama mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Tiga, penuhi kebutuhan mereka, tepati janji apabila kita akan membantu mereka dalam hal apapun.

Empat, bersikap terbuka dengan ide, input, saran dari mereka. Jika kita tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka, sampaikan secara jujur. Berikan alternatif solusi lain untuk membantu mereka

Lima, bersikap dengan cara profesional. Tunjukan dengan cara bertutur kata yang baik, gestur tubuh yang tepat, serta intonasi suara yang percaya diri bahwa kita adalah pilihan terbaik yang customer kita miliki untuk menyelesaikan kebutuhan mereka.

________________________________________________________________________________________________________

Q: Bagaimana seharusnya seorang Alterrans menghadapi komplain ketika apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan ekspektasi customer?

A: Dalam menyikapi komplain, aku punya dua prinsip. Yang pertama, dalam bekerja dan memberikan pelayanan kepada customer, kita juga perlu memahami bahwa komplain adalah hak dasar seorang customer terhadap kita, sehingga ketika kita tidak memenuhi ekspektasi customer, sudah dipastikan mereka akan komplain, itu natural banget dan jangan menjadikan komplain sebagai sesuatu yang negatif.

Yang kedua, buat aku, komplain adalah unstructured honest feedback, it’s a feedback, an honest one biasanya, cuma enggak terstruktur aja. Terstruktur di sini adalah tidak mengikuti kaidah yang menjadikan itu sebuah feedback konstruktif. Aku akan mencoba memberikan struktur dan mengubah kata-kata komplain itu menjadi sesuatu yang lebih positif dan menggambarkan ekspektasi customer, sehingga aku bisa mencerna komplain itu sebagai saran perbaikan yang membangun sekaligus sekali lagi mengecek tentang ekspektasi dari customer. 

Tanpa menyadari dan memegang kedua prinsip diatas, apalagi aku kerja di ranah POPS yang sehari-hari nya deal dengan karyawan sebagai customer, bisa-bisa kita terganggu dan akhirnya kehilangan motivasi bekerja. Kalau POPS-nya aja tidak memiliki motivasi kerja, bagaimana bisa memberikan yang terbaik untuk karyawan.

_______________________________________________________________________________________________

Q: Apa saranmu untuk Alterrans agar bisa selalu bekerja dengan berorientasi pada kepuasan customer?

A: Setiap kita pasti punya customer, baik kita yang karyawan apalagi kalau kita adalah pemilik bisnis. Customer tidak selalu diartikan sebagai seseorang yang membeli produk kita, tapi juga adalah orang-orang yang mempergunakan hasil kerja kita, contohnya rekan kerja kita yang mempergunakan apa yang kita kerjakan, seringnya disebut sebagai internal customer. Hal ini tidak bisa dihindarkan dari keseharian kita. 

Kepuasan customer juga berdampak jangka panjang nih, dimana sudah banyak cerita sukses dari sebuah perusahaan yang selalu mengutamakan kepuasan customer, akhirnya mereka punya customer yang sangat loyal dan dengan sukarela membeli produknya sehingga berdampak terhadap finansial perusahaan. Hal ini juga berlaku sama dengan kita yang bekerja dan memiliki customer internal, kepuasan customer internal kita akan menciptakan suasana kerja yang kondusif dan produktif, karyawan yang engaged dengan perusahaan, yang akhirnya pun akan berdampak baik terhadap produk-produk yang dihasilkan kepada customer eksternal kita.

Jadi, memiliki orientasi kerja untuk memuaskan customer kita itu tidak pernah ada cerita buruknya, yang ada hanya kisah suksesnya. Kenapa tidak kita lakukan saja? Tidak sulit juga untuk dilakukan, semua nya ada dalam kontrol kita, dan bisa dimulai dari diri kita, what are we waiting for?

________________________________________________________________________________________________________

Q: Adakah quote, pepatah, atau kalimat yang menjadi favorit Mbak dan akhirnya menjadi pedoman dari apa yang Mba Puspa lakukan?

A: Ada sebuah quote dari Famous Management Guru, Peter Drucker yang bilang “The most important thing in communication is to hear what isn’t being said,” mendengarkan apa yang tidak terkatakan, dengan kata lain kita memperhatikan bahasa non-verbal seseorang. Bahasa non verbal itu bisa berarti gesture, intonasi, gerakan badan, tatapan mata dan banyak lagi. 

Semakin kita bisa menangkap bahasa non-verbal ini, semakin kita akan dapat memahami situasi lawan bicara kita yang sebenarnya. Dan ini adalah yang aku selalu refer sebagai active listening, bahwa kita tidak semata-mata mendengarkan kata-kata melalui telinga, tapi mata kita juga aktif memperhatikan, mulut kita aktif memberikan respon dan tubuh kita aktif menunjukan antusiasme kepada lawan bicara kita. Sehingga ketika lawan bicara berkomunikasi dengan kita, mereka merasakan kehadiran kita seutuhnya dalam momen itu. 

________________________________________________________________________________________________________

Nah itu dia wawancara lengkapnya di episode kali ini. Gimana? episode kali ini menginspirasi banget, bukan? Terima kasih bagi yang sudah membaca sampai selesai ya. Sampai bertemu di episode berikutnya!

#RealStory Ep.12: Inovasi dari Mata Yosua Hotma

Hi Alterrans,

Kembali lagi di #RealStory episode terbaru. Apakah kamu tahu bahwa setiap tanggal 1 November, Indonesia memeringati hari Inovasi nasional? Nah, untuk itu tim KAMIS pun memilih value Innovation untuk dibahas pada episode ke-12 ini. Kali ini, nara sumbernya adalah our Head of CEO Office, Mas Yosua Hotma. Ada berbagai cerita menarik yang sepertinya sayang kalau dilewatkan. Langsung saja yuk, simak!

________________________________________________________________________________________________________

Q: Ok pertanyaan pertama, berdasarkan pengalaman, banyak orang yang enggak berani berinovasi karena takut gagal, takut salah, atau ya karena kurang percaya diri, menurut Mas Yosua gimana cara mengatasi ketakutan itu?

A: Oke, cara untuk mengatasi takut itu menurut gue ada dua hal. Satu, apa yang lo bisa kerjakan sendiri sebagai yang akan berinovasi, dan yang kedua, apa yang lo bisa harapkan dari lingkungan lo. Jadi, misalnya lo punya tim, what can the leader do supaya tim member itu enggak takut gagal atau salah. 

Nah, biasanya orang itu takut gagal atau salah itu karena merugikan, karena bisa menghilangkan uang banyak, atau gagal di depan banyak orang itu bisa menyakitkan. Jadi people are not usually afraid of failing or being wrong but they’re afraid of the consequences. Jadi ketika lo mau berinovasi, first thing you can do is memastikan your impact of failing itu minim. 

Sebagai contoh, misal lo ingin berinovasi dengan membuat bisnis baru dengan modal sedikit atau cukup, ketika worst case-nya uang modal itu hilang semua, lo harus bisa pastikan bahwa you still have money to eat. Jadi it’s about being smart and ensuring bahwa kalau gagal, you can live to see another day dan lo masih bisa terus berinovasi. 

Nah kalau leader, we need to create the environment di mana you and your team members are encouraged to innovate.  Jadi, kalau lo salah atau kalau lo gagal, satu damagenya ke perusahaan enggak akan besar, ke tim enggak akan besar, dan lo enggak akan dipermalukan. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Nah, ini bisa menyambung dengan pertanyaan selanjutnya. Gimana kalau inovasi yang kita buat tidak mendapatkan respon yang sesuai dengan harapan kita?

A: I think it’s good, itu namanya kita sudah punya hipotesis. Kita sudah punya harapan, misal kalau gue buat ini atau menciptakan ini, respon terbaik atau idealnya adalah ini. Tapi faktanya ternyata kita tidak mendapat respon yang sesuai dengan harapan kita, it means that there’s at least two things we should do ya. 

Pertama, pastikan lo mengerti why. Kalau enggak sesuai harapan ya enggak apa-apa, tapi pastikan lo memang mendapatkan feedback. The worst thing that can happen adalah ketika lo enggak dapat feedback, lo enggak tahu atau apakah inovasi ini sesuai harapan lo, atau bahkan membuat orang hidup lebih susah. Jadi lo tidak mempunyai visibility of the impact. Nah, kalau lo sudah memastikan lo mendapat respon, so you need to figure it out, What did i do wrong?,” “Apakah efek yang gue bayangkan itu salah?,” “Apakah justru orang itu enggak mau hal ini di-solved?.” 

Misalnya, lo menciptakan inovasi orang bisa meeting tanpa harus ketemuan, bicara, atau buka video. Lo bisa mencapai tujuan itu, people can actually do that. Tapi kok responnya negatif? You have done things right, dan itu menciptakan efek yang lo inginkan. Tapi rupanya, that’s not the right thing – that’s not what people want, because people want to hear each other, and see each other’s faces. So you can do things right but that’s just not what people want. 

Kalau seperti itu, ya you need to get back to the drawing board and figure out. Untuk hal yang lo mau innovate ini, is it really what people want or need? 

Kedua, kalau memang misalnya betul yang people want adalah itu, tapi hanya saja innovation yang lo buat tidak mencapai tujuan tersebut, you need to go back to your design board, “What did i do wrong?” “What can I improve in the execution?”.”  

________________________________________________________________________________________________________

Q: Okay, tapi ketika kita mendapatkan respon yang tidak diinginkan, banyak orang yang menjadi kurang percaya diri atau bahkan mundur. Gimana menurut mas Yosua cara untuk bangkit lagi?

A: I think the first principle adalah gimana caranya kita untuk enggak langsung ciut karena rejection. Sekeras apapun itu, you need to know bahwa that rejection atau those rejections yang banyak itu, enggak akan lebih merugikan lo dibanding lo diam di tempat atau lo enggak berinovasi dan akhirnya tertinggal. At the end of the day yang akan lebih lo sesalkan atau put yourself in a worst spot adalah kalau kita tidak berinovasi sama sekali dan kita tertinggal. Diujung semuanya kita bisa menyesal, “Why did we not try at all when we had the chance and the time?.” 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Nah sekarang dari sisi yang berbeda, biasanya sebuah inovasi atau perubahan akan menimbulkan pro dan kontra. Adakah tips dari mas Yosua untuk orang-orang yang tidak suka dengan perubahan?

A: Menurut gue ini tips yang sangat cliche, tapi sangat efektif walaupun pada prakteknya susah kalau kita mau terapkan. Caranya adalah kita make sure bahwa pihak yang tidak sependapat ini kita aligned in the very basic needs

Misal semua tim sudah menerapkan waterfall, and then gue mau melakukannya dengan agile. Gue merasa hal itu akan mempermudah, tapi mereka merasa bahwa yang biasa mereka lakukan lebih mudah diimplementasikan dan lebih cepat. Nah, kita bisa bawa itu ke principles yang lebih mendasar lagi. Intinya apa? Intinya kita mau melakukan ini secepat mungkin, atau kita sama-sama want the company to grow and we all become successful. Kalau pilihannya sama-sama yang kedua, berarti kita sebenarnya punya tujuan yang sama dong

Biasanya setelah itu, orang akhirnya akan mengerti dan paham bahwa tujuan kita sama. Kalau sudah seperti itu seharusnya sudah mulai luluh dan open to our suggestions and ideas. Nah, tapi bisa jadi orangnya memang unreasonable, setelah kita bawa ke principles yang lebih mendasar. Kalau we want the company to grow tapi rupanya tujuan kolega kita tersebut berbeda, “Oh, that’s not what I want, what I want is to have an easy life and have no worries,” kalau gitu berarti secara prinsip sudah berbeda and no amount of debate will be productive.

Fortunately kita berada di perusahaan yang menganggap perbedaan itu enggak apa-apa dan enggak membahayakan. So if you disagree with this, then you can join another team, atau lebih ekstremnya lagi, if you disagree with everyone around you–secara prinsip pun– everyone has the opportunity to find other opportunities in other teams, or probably in other companies. Karena hal paling penting adalah tahu prinsip lo, lo tahu hal yang benar dan apa yang lo mau, dan lo berpegang teguh pada prinsip tersebut. Jadi kalau ada yang pro-kontra, caranya adalah kita align melalui principles.

________________________________________________________________________________________________________

Q: Menurut mas Yosua apa sih definisi World Class Talent? Dan inovasi apa yang diekspektasi datang dari seorang World Class Talent? 

A: Definisi world class talent menurut gue itu kata kuncinya di kata world ya. Kalau misalnya kita ibaratkan dunia kerja sebagai satu pertandingan liga, di market atau negara manapun in the whole wide world lo ditempatkan–for your specific expertise–lo tetap akan menjadi value adding asset. I considered that world class talent

Misalnya, lo specialist di bidang Culture & Engagement, kalau lo berada di startup atau lo in a well established multinational company, you will still immediately add value because you are a world class talent. Apakah kalau seseorang Ivy League-graduate bekerja di a very strong tech company di US, otomatis world class? Belum tentu! Let’s say kita tempatkan dia di lingkungan startup baru di sebuah market yang masih frontier seperti Vietnam, bisa saja dia enggak tahu first thing to do-nya apa, dan dia clueless tanpa infrastruktur yang lengkap dan guidance dari other high-performing talents. Berarti dia belum sampai world class talent, karena dia enggak bisa perform as well in some parts of the world that are less developed. 

Nah untuk inovasi, lagi-lagi kata kuncinya ada di world. Di dunia yang besar ini, you can’t pretend that you know everything. Lo masih harus memiliki rasa penasaran terus bahwa there is morethat’s what a world class talent does. Lo enggak mudah puas, selalu mengatakan bahwa ini belum sempurna, dan bahkan kesempurnaan itu tidak bisa dicapai. So you need to continue to innovate how you think and even innovate yourself, that is what I would expect from a world class talent. Because the world is big and constantly changing, it’s too much for anyone to fully master at any given moment. Because it’s too much to master, it means there’s always room for improvement and to be better. That’s how you continue being a world class talent. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Okay, tadi Mas Yosua juga sempat bilang bahwa seorang leader harus bisa membuat sebuah environment yang membuat tim membernya mau berinovasi. Memang menurut mas Yosua gimana sih seharusnya seorang leader meng-encourage tim membernya untuk terus berinovasi?

A: Ini mungkin akan menjadi jawaban yang cliche, tapi menurut gue caranya adalah dengan leading by example. I cannot inspire, atau memotivasi tim gue dengan– “Wah, lo enggak boleh nyaman dengan status quo, you need to innovate, or find new ways to do these things better atau add more value.” –kalau gue sendiri terlihat nyaman dengan cara yang gitu-gitu aja. 

Apakah artinya gue harus come up with new ideas langsung everyday, everynight? Ya bisa, tapi bisa dimulai dengan hal simple. Tim gue harus melihat gimana gue menerima ide dari stakeholders. Apakah gue menerima dengan pikiran terbuka? Apakah gue naturally curious? Apakah gue main tolak mentah-mentah saja? Nah, the way i talk to people yang memberikan ide, atau cara gue interaksi dengan orang lain untuk sharing ide baru, itu bisa membantu gue set the tone ke tim gue sendiri. Bahwa di tim ini, inovasi itu bukan hanya diperbolehkan, tapi inovasi itu dianjurkan. Selain itu, gue juga harus tetap continue innovating myself and then i make it clear, i make it well accepted bahwa di sini, di tim ini, lo bisa fail safely without severe judgement or damage.

________________________________________________________________________________________________________

Q: Mas Yosua adakah saran untuk Alterrans yang cenderung masih belum berani untuk mengeluarkan ide atau inovasinya?

A: Saran gue untuk yang belum berani mengeluarkan inovasinya, i think i will give a very pragmatic advice yang mungkin tidak sedap didengar oleh sebagian orang. Bagi Alterrans yang belum berani berinovasi, try new things, or transform things for the better, you should. Why? Because somewhere out there, there is someone trying his/her best to innovate, to disrupt and change the way we do things. At the end of the day, kalau bukan kita yang terus maju, ya someone somewhere will disrupt us and we will lose our advantage, and potentially die as a business.

Bukan hanya sebagai sebuah bisnis, tapi juga sebagai individu, pasangan, orang tua, warga negara, bahkan sebagai sebuah negara, kita akan tertinggal kalau kita stop innovating. Because no matter what you do, no matter what you are afraid of, things will continue to change, you need to be the one driving change, or change will kill you. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Terakhir, mas Yosua sebagai individu adakah sebuah kalimat yang menjadi pegangan hidup mas Yosua?

A: Mungkin ini lumayan cliche juga, tapi if anything is worth doing, it’s worth doing well. Apapun itu, dari cuci piring sampai creating a new idea and executing a long term growth plan for a global company. Kalau misalnya lo enggak percaya bahwa you can be the best and you can give your best, mendingan jangan menerima challenge itu, karena bisa jadi lo cuma menghabiskan jatah orang – orang yang bisa achieve more disitu.

________________________________________________________________________________________________________

Nah itu dia wawancara lengkapnya, seru kan? Seperti yang tim KAMIS sudah janjikan akan ada beberapa cerita seru dari pada leaders di Alterra nih. Siapa kah yang akan menjadi nara sumber selanjutnya? Stay tuned terus ya!

×

How can we help you?

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar produk atau bisnis dengan Alterra, silakan isi form di bawah ini. Kami dengan senang hati akan menjawab dan membantu Anda.